Jihad NA Atasi Stunting Akan Dirasakan 10 Tahun Ke Depan

 MINGGU, 22 OKTOBER 2017 , 07:09:00 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Jihad NA Atasi Stunting Akan Dirasakan 10 Tahun Ke Depan
RMOL. Anak yang mengalami stunting akan sulit melahirkan generasi yang kuat atau generasi dari umat terbaik. Karena itu, Muhammadiyah menolak stunting.
Demikian disampaikan Wawan Gunawan Abdul Wahid dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam Kajian Tematik "Stunting dalam Perspektif Islam dan Muhammadiyah" yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Yogyakarta (Sabtu, 21/10).

Menurut Wawan, stunting yang merupakan defisit tinggi badan karena kekurangan gizi kronis tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dicegah. Dan stunting sesungguhnya bukan semata masalah tinggi badan, tetapi menghambat perkembangan otak dan meningkatkan risiko terkana penyakit tidak menular di saat dewasa.

"Menjadi muslim itu jangan terlalu pasrah, harus berusaha menjadi yang terbaik. Memuliakan manusia itu konsepnya sejak masa sebelum lahir, bahkan sejak ovum dan sperma bertemu. Fastabiqul khairat itu bukanlah berlomba-lomba dalam kebaikan, tapi menjadi yang terbaik. Karena itu, penting untuk mengajari umat untuk berbagi kepada mereka yang masih memerlukan perbaikan gizi," jelas Wawan.

Untuk itu Wawan memberikan rekomendasi cara untuk mencegah stunting, diantaranya dengan cara memberikan asupan makanan yang bergizi. Edukasi tentang asupan makanan yang seimbang perlu dilakukan, termasuk mengedukasi suami untuk mengurangi konsumsi rokok agar dialihkan ke konsumsi makanan bergizi

"Jihad Nasyiatul Aisyiyah untuk mengatasi stunting saat ini akan dirasakan dampaknya 10-20 tahun ke depan," tambah Wawan kemudian.

Sementara itu, pentingnya pemenuhan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan (270 hari selama kehamilan dan 730 hari dari kelahiran sampai anak usia 2 tahun) disampaikan oleh Kasubdit Promosi Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Bappenas, Entos Zainal. Ia mengingatkan, seribu hari pertama kehidupan adalah masa terpenting untuk pertumbuhan otak. Segala kerusakan yang terjadi pada masa ini kemungkinan akan menjadi permanen dan tidak dapat diperbaiki.

Ia mengingatkan, kekurangan gizi pada masa ini tidak hanya menyebabkan pertumbuhan terhambat, perkembangan otak juga menjadi tidak maksimal sehingga kemampuan kognitif terhambat.

"Kita harus berhenti memproduksi bayi dengan panjang kurang dari 49 cm. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi bahwa gizi adalah investasi bangsa. Maka beri ASI minimal 8 kali sehari untuk memenuhi kebutuhan bayi," ujar Entos. [ysa]

Komentar Pembaca
Penembakan Kader Prabowo, Bukan Soal Politik!
Supir Angkot: Hak Kami Direbut Anies!

Supir Angkot: Hak Kami Direbut Anies!

, 22 JANUARI 2018 , 17:00:00

Pesawat Hercules TNI Angkut Bantuan Kemanusiaan Untuk Warga Asmat
Kang Emil Angkat Koper

Kang Emil Angkat Koper

, 20 JANUARI 2018 , 20:57:00

Pengerukan Kali Ciliwung

Pengerukan Kali Ciliwung

, 20 JANUARI 2018 , 17:31:00